Pemerintah Amerika kalang kabut. Dokumen-dokumen sensitif miliknya bocor di internet, tepatnya di situs file-sharing.
Yang namanya dokumen sensitif pastinya berisi hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh publik. Dan memang benar, salah satu dokumen yang nongol ini berisi rencana evakuasi Presiden Obama jika ia berada dalam keadaan darurat, lengkap beserta rute yang harus ditempuh iring-iringan mobilnya.
Bagaimana sejumlah dokumen sensitif tersebut berhasil nongol di tempat yang tidak seharusnya? Chairman House Oversight and Government Reform Committee Amerika, Edolphus Towns mengatakan bahwa dokumen-dokumen ini ditemukan melalui program file-sharing berbasis P2P, bernama LimeWire.
Tak hanya itu, file-file dokumen lainnya yang tak kalah sensitif turut ditemukan. File-file yang ikut bocor ini terdiri dari file milik FBI, catatan kesehatan dan nomor-nomor keamanan sosial.
Mengetahui bahayanya program berbagi file yang sudah terbukti itu, pihak pemerintah AS pun berencana akan memberlakukan undang-undang baru. Melalui undang-undang ini, aksi pemblokiran terhadap software P2P (peer-to-peer) akan diberlakukan dari semua jaringan dan komputer milik pemerintah dan kontraktor.
Program LimeWire ini sendiri memang tidak 'suci'. Pada Maret lalu, perusahaan intelegensi Tiversa pernah menemukan informasi terklasifikasi tentang Marine One, helikopter yang digunakan untuk mengangkut Obama.
Di luar itu, Lime Wire juga pernah digunakan untuk mendistribusikan pornografi anak, demikian yang dilansir News.com, kamis (30/7). (dtk/arrahmah.com)
Entah ini sesuatu yang dilebih-lebihkan ataukah memang sebuah perkiraan belaka. Bisa juga sebuah kabar bagus. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ini adalah upaya untuk “menyadarkan” orang-orang di seluruh Eropa akan keberadaan umat Islam di benua mereka agar bisa mengantisipasinya dan menyebarkan Islamofobia. Tapi hampir semua pihak mengeluarkan pernyataan yang sama. Baik gereja, pemimpin dunia, media, dan bahkan para analisis, bahwa pada tahun 2050, Eropa akan menjadi benua umat Muslim. Benarkah?
Dalam beberapa tahun belakangan ini, populasi umat Muslim di Eropa memang luar biasa. Di tengah hantaman gelombang isyu Islam itu teroris, orang-orang Barat malah berbondong-bondong ingin mengenal Islam. Begitulah, jika Anda menyatakan sesuatu terlarang, maka orang dengan sendirinya akan semakin mendekati yang Anda larang tersebut. Apalagi jika itu berhubungan sebuah institusi kebenaran.
Saat ini, diperkirakan Eropa dihuni oleh kurang lebih 50 juta penduduknya yang beragama Islam. Tentu saja, walaupun hanya sepertiga dari jumlah Muslim penduduk suatu Negara yang mempunyai pemeluk Islam terbesar di dunia, tetapi Muslim di Eropa mempunyai perbedaan yang sangat besar. Antara lain, mereka memeluk Islam lebih banyak karena kesadaran mereka sendiri, bukannya factor keturunan.
Dalam sejarahnya, Islam menyebar melalui Afrika Utara, melintasi selat Gibraltar ke Spanyol. Dari sini, Islam terus memasuki Austria, dan selanjutnya pada akhir abad 1800, Islam tak terbendung lagi memasuki Eropa. Hari ini, Islam menyebar dengan cara yang luar biasa.
Kajian statistik menunjukan bahwa angka kelahiran sebuah keluarga di Eropa merupakan sesuatu yang esensial. Sejarah menunjukkan bahwa jika angka kelahiran sebuah Negara di bawah 1,9 maka Negara itu akan jatuh. Sekarang Prancis mempunyai angka kelahiran 1.8, Inggris 1,6, Yunani 1,3, Italia 1,2, dan Spanyol 1,1. Angka kelahiran di Negara-negara 31 negara Eropa lainnya jika dirata-ratakan akan mencapai 1,38.
Tapi kedatangan imigran Muslim tak bisa lagi memprediksikan angka kelahiran di Eropa. Jumlahnya makin meningkat. Misalnya saja di Prancis, angka kelahiran di Negara ini mencapai 1,8 untuk seluruh penduduknya, namun 8,1 untuk angka kelahiran setiap keluarga Muslim.
Pada tahun 2027, satu dari lima orang Prancis sudah bisa diprediksi sebagai Muslim. Dengan angka seperti ini, 39 tahun ke depan, Prancis sudah diperkirakan menjadi Negara penganut Islam terbesar. Di Belanda, 25% penduduknya adalah Muslim. 50% dari kelahiran bayi baru berikutnya juga Muslim. Sedangkan di Russia ada 23 juta Muslim, dan hanya dalam waktu dekat, 40% dari tentara Russia akan menjadi Muslim juga.
Pemerintah Jerman adalah yang pertama menyuarakan perubahan dramatis ini. Mereka memperkirakan, pada 2025, German akan menjadi sebuah negara yang berpenduduknya mayoritas Muslim.
Jumlah 52 juta Muslim di Eropa sekarang ini diperkirakan akan berlipat ganda pada 24 tahun mendatang. Sejak tahun 1990, diperkirakan 90% dari pertumbuhan adalah Muslim. Pada 2050, Eropa akan menjadi benua yang penuh dengan umat Muslim.
Di Kanada, angka kelahirannya adalah 1,6. Antara tahun 2001 dan 2006, populasi Kanada meningkat sampai 1,6 juta. 1,2-nya merupakan Muslim. Islam memang menjadi agama yang paling cepat tersebar di negara ini. Sedangkan di AS, angka kelahirannya juga sama 1,6. Jika populasi penduduk Latin disertakan maka angkanya menjadi 2,2. Tahun 1970, hanya ada 100.000 orang Islam di AS. Sekarang jumlahnya menjadi 9 juta orang. Dalam 30 tahun ke depan, diperkirakan aka ada 50 juta Muslim di AS.
Perubahan perkiraan demografi ini jelas akan membawa perubahan tersendiri di suatu negara. Hukum, institusi, dan pemerintah akan ikut berganti mengikuti perubahan politik, dan perubahan politik akan senantiasa mengikuti arus besar massa itu sendiri. Akankah 2050, Eropa menjadi benua dengan pemeluk Islam terbesar? Wallohu alam bi shawwab. (sa/ciafact/nlsnprc)
Di dalam Al-Qur’an terdapat sebuah ayat yang sangat sering dikutip oleh para politisi Partai Islam terutama di musim kampanye menjelang Pemilu. Namun yang kita sayangkan ialah umumnya mereka mengutip ayat tersebut secara tidak lengkap alias sepotong saja. Lengkapnya ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)
Mengapa ayat ini begitu populer dikumandangkan para jurkam di musim kampanye? Karena di dalamnya terkandung perintah Allah agar ummat taat kepada Ulil Amri Minkum (para pemimpin di antara kalian atau para pemimpin di antara orang-orang beriman). Sedangkan para politisi partai tadi meyakini jika diri mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin sosial berarti mereka dengan segera akan diperlakukan sebagai bagian dari Ulil Amri Minkum. Dan hal itu akan menyebabkan mereka memiliki keistimewaan untuk ditaati oleh para konstituen. Selain orang-orang yang sibuk menghamba kepada Allah semata, mana ada manusia yang tidak suka dirinya mendapatkan ketaatan ummat? Itulah sebabnya ayat ini sering dikutip di musim kampanye. Namun sayang, mereka umumnya hanya mengutip sebaian saja yaitu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم
”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa ayat 59)
Mereka biasanya hanya membacakan ayat tersebut hingga kata-kata Ulil Amri Minkum. Bagian sesudahnya jarang dikutip. Padahal justru bagian selanjutnya yang sangat penting. Mengapa? Karena justru bagian itulah yang menjelaskan ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum. Bagian itulah yang menjadikan kita memahami siapa yang sebenarnya Ulil Amri Minkum dan siapa yang bukan. Bagian itulah yang akan menentukan apakah fulan-fulan yang berkampanye tersebut pantas atau tidak memperoleh ketaatan ummat.
Dalam bagian selanjutnya Allah berfirman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)
Allah menjelaskan bahwa ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum yang sebenarnya ialah komitmen untuk selalu mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Para pemimpin sejati di antara orang-orang beriman tidak mungkin akan rela menyelesaikan berbagai urusan kepada selain Al-Qur’an dan Sunnah Ar-Rasul. Sebab mereka sangat faham dan meyakini pesan Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Hujurat ayat 1)
Sehingga kita jumpai dalam catatan sejarah bagaimana seorang Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu di masa paceklik mengeluarkan sebuah kebijakan ijtihadi berupa larangan bagi kaum wanita beriman untuk meminta mahar yang memberatkan kaum pria beriman yang mau menikah. Tiba-tiba seorang wanita beriman mengangkat suaranya mengkritik kebijakan Khalifah seraya mengutip firman Allah yang mengizinkan kaum mu’minat untuk menentukan mahar sesuka hati mereka. Maka Amirul Mu’minin langsung ber-istighfar dan berkata: ”Wanita itu benar dan Umar salah. Maka dengan ini kebijakan tersebut saya cabut kembali...!” Subhanallah, demikianlah komitmen para pendahulu kita dalam hal mentaati Allah dan RasulNya dalam segenap perkara yang diperselisihkan.
Adapun dalam kehidupan kita dewasa ini segenap sistem hidup yang diberlakukan di berbagai negara –baik negara Muslim maupun Kafir- ialah mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada selain Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Tidak kita jumpai satupun tatanan kehidupan modern yang jelas-jelas menyebutkan bahwa ideologi yang diberlakukan ialah ideologi Islam yang intinya ialah mendahulukan berbagai ketetapan Allah dan RasulNya sebelum yang lainnya. Malah sebaliknya, kita temukan semua negara modern yang eksis dewasa ini memiliki konstitusi buatan manusia, selain Al-Qur’an dan AsSunnah An-Nabawiyyah, yang menjadi rujukan utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Seolah manusia mampu merumuskan konstitusi yang lebih baik dan lebih benar daripada sumber utama konstitusi yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’aala.
Bila demikian keadaannya, berarti tidak ada satupun pemimpin negeri di negara manapun yang ada dewasa ini layak disebut sebagai Ulil Amri Minkum yang sebenarnya. Pantaslah bilamana mereka dijuluki sebagai Mulkan Jabbriyyan sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebutkan dalam hadits beliau. Mulkan Jabbriyyan artinya para penguasa yang memaksakan kehendaknya seraya tentunya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Adapun masyarakat luas yang mentaati mereka berarti telah menjadikan para pemimpin tersebut sebagai para Thoghut, yaitu fihak selain Allah yang memiliki sedikit otoritas namun berlaku melampaui batas sehingga menuntut ketaatan ummat sebagaimana layaknya mentaati Allah. Na’udzubillahi min dzaalika.
Keadaan ini mengingatkan kita akan peringatan Allah mengenai kaum munafik yang mengaku beriman namun tidak kunjung meninggalkan ketaatan kepada Thoghut. Padahal Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan para Thoghut bila benar imannya.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ
وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa ayat 60)
Sungguh dalam kelak nanti di neraka penyesalan mereka yang telah mentaati para pembesar dan pemimpin yang tidak menjadikan Allah dan RasulNya sebagai tempat kembali dalam menyelesaikan segenap perkara kehidupan.
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS Al-Ahzab ayat 66-68)
Dalam banyak pertemuan di majlis, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam.
Padahal Allah Ta’ala melarang hal tersebut dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikan. Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al Hujurat:12)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya,
“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan, “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika apa (yang digunjingkan) itu tidak terdapat padanya, maka engkau telah berdusta atasnya.”( Hadits riwayat Muslim, 4/2001.)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik mengenai jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, meniru tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang digunjingkan dengan maksud mengolok-olok.
Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.”( As-Silsilah Ash-Shahihah, 1871.)
Wajib bagi orang yang hadir di dalam majlis yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang digunjingkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya,
“Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya.”( Hadits riwayat Ahmad, 6/450, Shahihul Jami’, .6238.)
(Dari kitab "Muharramat Istahana Bihan Naas" karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid / alsofwah)
Friedrich Nietszche seorang filsuf Yahudi, yang pernah terkenal dengan ucapan, bahwa ‘Tuhah telah mati’. Apa yang diucapkan Nietszche itu, tak berbeda dengan yang diucapkan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, kemarin, yang mengatakan telah mati harapan perdamaian dan terbentuknya negara Palestina. Ini merupakan penolakan tegas gagasan penyelesaian damai oleh Presiden AS Barack Obama yang akan melangsungkan kunjungan ke Israel.
Apa yang digagas Obama menjadi sia-sia. Tak berarti. Kunjungan Obama ke Israel pekan ini tak bermakna apa-apa. Semua yang menjadi perantara politik, termasuk utusan khusus Presiden Obama untuk Timur Tengtah, George Mitchel, hanya akan membuang waktu. Tak akan membuahkan hasil apa-apa, khususnya untuk menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Gagasan perdamaian menemukan jalan buntu. Karena sikap para pemimpin Israel, yang sedikitpun tidak membuka peluang bagi terciptanya perdamaian di kawasan itu.
Sikap para pemimpin Israel, khususnya para pemimpin partai yang sekarang berkuasa di Israel, yang sebagian besar adalah partai-partai aliran kanan, yang konservatif, dan cenderung sangat rasis dan fascis, menolak semua konsesi politik yang memberikan peluang bagi terwujudnya negara Palestina. Netanyahu, Minggu kemarin, secara tegas menyatakan, telah mati harapan perdamaian dan terbentuknya negara Palestina. “Tidak ada hak kembali bagi para pengungsi Palestina. Tidak Yerusalem bagi bangsa Palestina. Tidak ada penghentian pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem dan Tepi Barat. Tidak ada kedaulatan udara, dan tidak ada kedaulatan pemerintahan Palestina dan lainnya”, ucap Netanyahu. Ini sama dengan membunuh seluruh inisiatif yang ingin dibangun pemerintahan Obama, yang tujuan menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Netanyahu masih menambahkan pernyataan yang lebih memperburuk situasi dengan mengatakan, orang-orang Palestina tidak memiliki hak sejarah atas tanah Palestina. Orang-orang Palestina di tanah ini (Palestina), tak layak hidup di tempat ini. Tepi Barat telah ditetapkan kitab suci, dan menjadi tanah milik orang-orang Yahudi,seperti diwariskan oleh Nabi Ibrahim, cetus Netanyahu. Inilah respon Netanyahu yang akan bertemu dengan Presiden Barack Obama di Israel pekan ini. Obama akan berkunjung ke Israel, dan melakukan pembicaraan langsung dengan para pemimpin Israel, mengenai sejumlah isu, termasuk masalah isu yang sensitive pembangunan pemukiman Yahudi.
Namun, Obama akan menghadapi tembok ‘karang’ yang pasti menolak gagasan pengehntian pemukiman, karena semua pemerintahan di Israel mendukung pembangunan pemukiman Yahudi. Pembangunan pemukiman itu, tak lain adalah bagina dari proses penjajahan dan pemusnahan penduduk Arab-Palestina. Sebenarnya, menurut hukum internasional semua pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat sifatnya illegal. Tapi, kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Israel terus berlangsung, sehingga tindakan ‘illegal’ menjadi sebuah tindakan yang ‘legal’.
Sejatinya, Presiden Obama sudah memahami, esensi persoalan konflik Arab-Israel, yang tidak pernah selesai, karena semua keputusan dan resolusi DK.PBB semua mentah, dan ditolak oleh Israel, dan AS selalu berada dibelakangnya. Visi Presiden Obama menciptakan perdamaian itu, hanya menjadi kata-kata ‘kosong’, kalau Obama tidak berani bersikap tegas terhadap Israel. Apalagi, selama ini Israel telah berhasil mengarahkan semua pemimpin AS, dan tidak ada satupun pemimpin AS, yang sungguh-sungguh menyelesaikan konflik Arab-Israel sampai hari ini. Apakah Presiden Obama cukup mempunyai pengaruh terhadap Netanyahu?
Tuntutan minimal yang menjadi aspirasi kalangan Arab, Israel harus mundur dari pendudukan atas tanah Arab, sejak perang yang terjadi di tahun 1967. Di mana Israel harus mengembalikan Dataran Tinggi Golan, Israel harus mengembalikan tanah pertanian Sheba, Israel harus mengembalikan wilayah Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Hal inilah yang pernah dilakukan Menahem Begin dengan Anwar Sadat, yang disebut ‘land for peace’, yang sebenarnya tanah-tanah itu, tak lain milik orang Palestina, yang dirampas Israel.
Tapi, Benyamin tidak mau berbicara tentang negara Palestina yang merdeka, apalagi hak kembali para pengungsi, serta Yerusalem menjadi ibukota Palestina, dan justru yang terjadi sekarang ribuan penduduk Arab diusir dari wilayah itu, dan digantikan oleh penduduk Yahudi. Inilah batu ujian buat Obama. Apakah Obama seorang presiden dari negara adikuasa, atau ia hanya kacungnya Israel? (msi)
sumber:http://www.eramuslim.com/berita/analisa/matinya-ide-perdamaian-obama.htm
Tahukah Anda: Muslim Pertama Menjelajah Ruang Angkasa
by Blue Savir | 09.13 in Dunia Islam | komentar (0)
Malaysia masih disebut-sebut sebagai negara Islam pertama yang berhasil mengirim astronotnya ke luar angkasa. Pada bulan Oktober tahun 2007, seorang ahli bedah ortopedi dari Universiti Kebangsaan Malaysia bernama Muszaphar Shukor berhasil menembus atmosfir bumi bersama para astronot Rusia dalam peluncuran stasiun ruang angkasa Soyuz TMA-11. Shukor sukses menjalankan misi ruang angkasanya selama 11 hari dan kembali ke bumi pada 21 Oktober 2007, tepatnya di wilayah Kazakhstan pukul 10.43 waktu setempat.
Pendaratan Shukor kembali ke bumi disambut meriah oleh rakyat dan pejabat negara Malaysia. "Ini akan menjadi catatan dalam sejarah kita, karena untuk pertama kalinya orang Malaysia ke ruang angkasa dan kembali dengan selamat, " sambung Najib Razak seperti dilansir New Strait Times edisi Senin (22/10/2007).
Malaysia boleh bangga dengan keberhasilan program ruang angkasanya, yang lewat kerjasama dengan Rusia berhasil memberangkatkan astronotnya. Tapi Sukhor bukanlah Muslim pertama atau satu-satunya Muslim yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa. Setidaknya ada Muslim yang sudah melakukan perjalanan ke luar planet bumi beberapa tahun sebelumnya.
Muslim pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa sebenarnya adalah Pangeran Sultan bin Salman AbdulAziz Al-Saud dari Arab Saudi. Pada tahun 1985, Al-Saud ikut bersama kru yang menjalankan misi ruang angkasa STS-S1G dengan menggunakan pesawat Discovery milik AS, untuk mengorbitkan satelit komunikasi ARABSAT 1-B. Dalam misi ini, Al-Saud bukan hanya menjadi Muslim pertama yang pergi ke ruang angkasa tapi juga menjadi anggota kerajaan Saudi pertama yang berhasil menjelajah ruang angkasa.
Setelah menyelesaikan misinya, Al-Saud kemudian mendirikan organisasi non-profit Asosiasi Penjelajah Ruang Angkasa, sebagai wadah berkumpulnya para astronot dan kosmonot dari seluruh dunia. Al-Saud sendiri yang menjadi direktur asosiasi itu selama beberapa tahun.
Dua tahun setelah keberangkatan Al-Saudi, tepatnya pada bulan Juli 1987, Muslim asal Suriah bernama Mohammed Faris ikut dalam misi Soyuz TM-3 ke stasiun ruang angkasa Rusia, Mir. Mohammed Faris, anggota Angkatan Udara Suriah berpangkat kolonel itu, menjalankan misi penelitian ke Mir.
Lima bulan kemudian, Musa Manarov, seorang Muslim keturunan Azerbaijan yang berpangkat kolonel di Angkatan Udara Uni Sovyet juga berangkat ke luar angkasa dalam misi Soyuz TM-4 ke stasiun ruang angkasa Mir. Manarov bersama tim Soyuz TM-4, menjadi Muslim pertama yang tinggal di ruang angkasa selama satu tahun penuh. Ia kembali ke bumi pada Desember 1988. Musa Manarov kembali melakukan penjelajahan ke luar angkasa pada Desember 1990 dalam misi Soyuz TM-11. Kali ini ia tinggal selama satu tahun tiga bulan di ruang angkasa dan melakukan lebih dari 20 jam perjalanan, menjelajah ruang angkasa.
Muslim lainnya yang juga pernah menjalankan misi ke luar angkasa adalah Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan. Pilot Angkatan Udara Afghanistan itu ikut dalam misi Soyuz TM-6 pada bulan Agustus 1988 sebagai kosmonot yang melakukan riset selama delapan hari di Mir. Dalam misi ini, Mohmand bahkan menjadi pahlawan penyelamat bagi kru lainnya, ketika kapsul yang akan membawanya kembali ke bumi mengalami kendala saat akan memasuki atmosfir bumi.
Kurang dari 10 tahun setelah misi Mohamd, Muslim-muslim lainnya menyusul, mengikuti berbagai misi ke ruang angkasa. Antara lain Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan yang ikut dalam misi Soyuz TM-13 ke Mir tahun 1991. Kemudian tahun 1994, misi Soyuz TM-19 mengikutsertakan Talgat Musabayev, seorang Muslim yang juga asal Kazakhstan.
Jika perjalanan ruang angkasa selama bertahun-tahun didominasi oleh kaum lelaki Muslim, pada bulan September 2006, muslimah AS keturunan Iran, Anousheh Ansari berhasil mendobrak rekor menjadi muslimah pertama sekaligus turis pertama dalam program perjalanan ke ruang angkasa. Ansara melakukan "wisata ruang angkasa"nya dengan menggunakan Soyuz TM-9 yang menjadi bagian dari misi Expedition 14.
Baru kemudian tahun 2007, Muszaphar Shukor dari Malaysia melakukan perjalanan ke ruang angkasa. Pemberitaan yang intens mungkin yang membuat perjalanan Shukor lebih banyak diketahui khalayak dan membuat mereka kagum bahwa ada seorang Muslim yang akhirnya bisa menjadi astronot. Padahal jauh sebelum Shukor, banyak muslim lainnya yang sudah menjelajah ruang angkasa. Kapan giliran muslim Indonesia? (ln/iol)Malaysia masih disebut-sebut sebagai negara Islam pertama yang berhasil mengirim astronotnya ke luar angkasa. Pada bulan Oktober tahun 2007, seorang ahli bedah ortopedi dari Universiti Kebangsaan Malaysia bernama Muszaphar Shukor berhasil menembus atmosfir bumi bersama para astronot Rusia dalam peluncuran stasiun ruang angkasa Soyuz TMA-11. Shukor sukses menjalankan misi ruang angkasanya selama 11 hari dan kembali ke bumi pada 21 Oktober 2007, tepatnya di wilayah Kazakhstan pukul 10.43 waktu setempat.
Pendaratan Shukor kembali ke bumi disambut meriah oleh rakyat dan pejabat negara Malaysia. "Ini akan menjadi catatan dalam sejarah kita, karena untuk pertama kalinya orang Malaysia ke ruang angkasa dan kembali dengan selamat, " sambung Najib Razak seperti dilansir New Strait Times edisi Senin (22/10/2007).
Malaysia boleh bangga dengan keberhasilan program ruang angkasanya, yang lewat kerjasama dengan Rusia berhasil memberangkatkan astronotnya. Tapi Sukhor bukanlah Muslim pertama atau satu-satunya Muslim yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa. Setidaknya ada Muslim yang sudah melakukan perjalanan ke luar planet bumi beberapa tahun sebelumnya.
Muslim pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa sebenarnya adalah Pangeran Sultan bin Salman AbdulAziz Al-Saud dari Arab Saudi. Pada tahun 1985, Al-Saud ikut bersama kru yang menjalankan misi ruang angkasa STS-S1G dengan menggunakan pesawat Discovery milik AS, untuk mengorbitkan satelit komunikasi ARABSAT 1-B. Dalam misi ini, Al-Saud bukan hanya menjadi Muslim pertama yang pergi ke ruang angkasa tapi juga menjadi anggota kerajaan Saudi pertama yang berhasil menjelajah ruang angkasa.
Setelah menyelesaikan misinya, Al-Saud kemudian mendirikan organisasi non-profit Asosiasi Penjelajah Ruang Angkasa, sebagai wadah berkumpulnya para astronot dan kosmonot dari seluruh dunia. Al-Saud sendiri yang menjadi direktur asosiasi itu selama beberapa tahun.
Dua tahun setelah keberangkatan Al-Saudi, tepatnya pada bulan Juli 1987, Muslim asal Suriah bernama Mohammed Faris ikut dalam misi Soyuz TM-3 ke stasiun ruang angkasa Rusia, Mir. Mohammed Faris, anggota Angkatan Udara Suriah berpangkat kolonel itu, menjalankan misi penelitian ke Mir.
Lima bulan kemudian, Musa Manarov, seorang Muslim keturunan Azerbaijan yang berpangkat kolonel di Angkatan Udara Uni Sovyet juga berangkat ke luar angkasa dalam misi Soyuz TM-4 ke stasiun ruang angkasa Mir. Manarov bersama tim Soyuz TM-4, menjadi Muslim pertama yang tinggal di ruang angkasa selama satu tahun penuh. Ia kembali ke bumi pada Desember 1988. Musa Manarov kembali melakukan penjelajahan ke luar angkasa pada Desember 1990 dalam misi Soyuz TM-11. Kali ini ia tinggal selama satu tahun tiga bulan di ruang angkasa dan melakukan lebih dari 20 jam perjalanan, menjelajah ruang angkasa.
Muslim lainnya yang juga pernah menjalankan misi ke luar angkasa adalah Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan. Pilot Angkatan Udara Afghanistan itu ikut dalam misi Soyuz TM-6 pada bulan Agustus 1988 sebagai kosmonot yang melakukan riset selama delapan hari di Mir. Dalam misi ini, Mohmand bahkan menjadi pahlawan penyelamat bagi kru lainnya, ketika kapsul yang akan membawanya kembali ke bumi mengalami kendala saat akan memasuki atmosfir bumi.
Kurang dari 10 tahun setelah misi Mohamd, Muslim-muslim lainnya menyusul, mengikuti berbagai misi ke ruang angkasa. Antara lain Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan yang ikut dalam misi Soyuz TM-13 ke Mir tahun 1991. Kemudian tahun 1994, misi Soyuz TM-19 mengikutsertakan Talgat Musabayev, seorang Muslim yang juga asal Kazakhstan.
Jika perjalanan ruang angkasa selama bertahun-tahun didominasi oleh kaum lelaki Muslim, pada bulan September 2006, muslimah AS keturunan Iran, Anousheh Ansari berhasil mendobrak rekor menjadi muslimah pertama sekaligus turis pertama dalam program perjalanan ke ruang angkasa. Ansara melakukan "wisata ruang angkasa"nya dengan menggunakan Soyuz TM-9 yang menjadi bagian dari misi Expedition 14.
Baru kemudian tahun 2007, Muszaphar Shukor dari Malaysia melakukan perjalanan ke ruang angkasa. Pemberitaan yang intens mungkin yang membuat perjalanan Shukor lebih banyak diketahui khalayak dan membuat mereka kagum bahwa ada seorang Muslim yang akhirnya bisa menjadi astronot. Padahal jauh sebelum Shukor, banyak muslim lainnya yang sudah menjelajah ruang angkasa. Kapan giliran muslim Indonesia? (ln/iol)
Ulama Palestina Seru Ulama Umat Selamatkan Al-Quds dan Gelar KTT Arab Segera
by Blue Savir | 09.06 in Dunia Islam | komentar (0)
Gaza : Asosiasi Ulama Palestina mengingatkan akibat buruk dari ketidakpedulian dunia Arab dan Islam terhadap apa yang menimpa masjid Al-Aqsha. Mereka menegaskan bahwa sikap diam terhadap segala bentuk tindakan melecehkan kesucian masjid Al-Aqsha setiap hari oleh kelompok ekstrim yahudi justru akan menghasung sikap berani Israel terus melakukan kejahatannya. Atau bahkan sikap diam dianggap Israel sebagai lampu hijau bagi mereka untuk menerapkan rencana-rencana yahudisasi Al-Quds dan peninggalan-peninggalan Arab sepanjang jaman.
Mereka meminta kepada bangsa Arab dan umat Islam, organisasinya, partai, badan, lembaga, asosiasi dan lainnya melakukan aksi dengan berbagai jenisnya untuk membela Al-Aqsa dan mendukung warga A-Quds membela masjid suci itu.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi persnya yang digelar oleh Dr. Salim Salamah, ketua Asosiasi Ulama Palestina kemarin Rabu (29/7) dengan diikuti oleh Dr. Nashem Yasen sekjen asosiasi dan ketua dinas reformasi di asosiasi tersebut. Konferensi itu digelar secara mendesak menyusul aksi yahudi ekstrim yang semakin gencar melakukan yahudisasi di Al-Quds.
Salamah menegaskan bahwa asosiasinya menilai aksi Yahudi saat ini sudah sangat berbahaya karena berbarengan dengan aksi sistematis Israel terhadap Palestina 48 dimana Negara zionis itu sudah mulai menerapkan undang-undang rasis yang bertujuan mempersempit gerakan warga Palestina. Tujuan Israel selanjutnya adalah mengarusnya yahudisasi Negara mereka di seluruh wilayah Palestina.
Yang paling berbahaya menurut Asosiasi Ulama Palestina adalah pelanggaran Israel terhadap tempat suci Islam terutama masjid Al-Aqsha, masjid Ibrahimi di Hebron (Khalil Rahman). Sebab kelompok ekstrim kerap sekali menyerang masjid tersebut untuk menghapus seluruh simbol-simbol keislaman.
Karenanya, asosiasi meminta kepada warga Al-Quds dan bangsa Palestina di wilayah 48 untuk intens berkunjung ke masjid tersebut dan berjaga di sana demi mencegah konspirasi Israel dan menggagalkannya dimana mereka ingin mendirikan Altar Sulaiman di atas puing-puing masjid Al-Aqsha.
Di tengah situasi tegang dan permusuhan Israel yang meningat, dimana KTP warga Al-Quds disita, rumah mereka digusur dengan alasan tidak mendapatkan izin bangunan, dan penyitaan aset mereka dengan berbagai alasan, asosiasi Ulama Palestina menyerukan kepada bangsa Arab dan Islam serta pemimpinnya untuk bertemu menggelar KTT membahas kejahatan Israel itu dan mengambil sikap tegas membela Al-Quds.
Seruan juga disampaikan kepada warga dunia seluruhnya yang masih memiliki nurani, sebab tidak mungkin “perusak dunia” menghancurkan simbol kemanusiaan tertua di muka bumi yakni masjid Al-Aqsha, masjid kedua yang digunakan manusia untuk beribadah atau 40 tahun dibangun setelah pembangunan Masjidil Haram.
Asosiasi meningatkan bahwa UNICEF pernah mengecam keras terhadap penghancuran dua patung di Afganistan, kenapa kini mereka tenang saja melihat zionis Israel hendak menghancurkan peninggalan manusia tertua di bumi ini yakni Al-Aqsha.??? (Sumber:infopalestina) Gaza : Asosiasi Ulama Palestina mengingatkan akibat buruk dari ketidakpedulian dunia Arab dan Islam terhadap apa yang menimpa masjid Al-Aqsha. Mereka menegaskan bahwa sikap diam terhadap segala bentuk tindakan melecehkan kesucian masjid Al-Aqsha setiap hari oleh kelompok ekstrim yahudi justru akan menghasung sikap berani Israel terus melakukan kejahatannya. Atau bahkan sikap diam dianggap Israel sebagai lampu hijau bagi mereka untuk menerapkan rencana-rencana yahudisasi Al-Quds dan peninggalan-peninggalan Arab sepanjang jaman.
Mereka meminta kepada bangsa Arab dan umat Islam, organisasinya, partai, badan, lembaga, asosiasi dan lainnya melakukan aksi dengan berbagai jenisnya untuk membela Al-Aqsa dan mendukung warga A-Quds membela masjid suci itu.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi persnya yang digelar oleh Dr. Salim Salamah, ketua Asosiasi Ulama Palestina kemarin Rabu (29/7) dengan diikuti oleh Dr. Nashem Yasen sekjen asosiasi dan ketua dinas reformasi di asosiasi tersebut. Konferensi itu digelar secara mendesak menyusul aksi yahudi ekstrim yang semakin gencar melakukan yahudisasi di Al-Quds.
Salamah menegaskan bahwa asosiasinya menilai aksi Yahudi saat ini sudah sangat berbahaya karena berbarengan dengan aksi sistematis Israel terhadap Palestina 48 dimana Negara zionis itu sudah mulai menerapkan undang-undang rasis yang bertujuan mempersempit gerakan warga Palestina. Tujuan Israel selanjutnya adalah mengarusnya yahudisasi Negara mereka di seluruh wilayah Palestina.
Yang paling berbahaya menurut Asosiasi Ulama Palestina adalah pelanggaran Israel terhadap tempat suci Islam terutama masjid Al-Aqsha, masjid Ibrahimi di Hebron (Khalil Rahman). Sebab kelompok ekstrim kerap sekali menyerang masjid tersebut untuk menghapus seluruh simbol-simbol keislaman.
Karenanya, asosiasi meminta kepada warga Al-Quds dan bangsa Palestina di wilayah 48 untuk intens berkunjung ke masjid tersebut dan berjaga di sana demi mencegah konspirasi Israel dan menggagalkannya dimana mereka ingin mendirikan Altar Sulaiman di atas puing-puing masjid Al-Aqsha.
Di tengah situasi tegang dan permusuhan Israel yang meningat, dimana KTP warga Al-Quds disita, rumah mereka digusur dengan alasan tidak mendapatkan izin bangunan, dan penyitaan aset mereka dengan berbagai alasan, asosiasi Ulama Palestina menyerukan kepada bangsa Arab dan Islam serta pemimpinnya untuk bertemu menggelar KTT membahas kejahatan Israel itu dan mengambil sikap tegas membela Al-Quds.
Seruan juga disampaikan kepada warga dunia seluruhnya yang masih memiliki nurani, sebab tidak mungkin “perusak dunia” menghancurkan simbol kemanusiaan tertua di muka bumi yakni masjid Al-Aqsha, masjid kedua yang digunakan manusia untuk beribadah atau 40 tahun dibangun setelah pembangunan Masjidil Haram.
Asosiasi meningatkan bahwa UNICEF pernah mengecam keras terhadap penghancuran dua patung di Afganistan, kenapa kini mereka tenang saja melihat zionis Israel hendak menghancurkan peninggalan manusia tertua di bumi ini yakni Al-Aqsha.??? (Sumber:infopalestina)