Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)




Bismillaahirrohmaanirrohiim



Disaat seorang ikhwan baik-baik “menawarkan diri” kepada seorang akhwat untuk menikahinya, itu bukanlah hal mudah baginya. Ikhwan juga manusia! Tentu si ikhwan sudah berfikir dan memperhitungkan sebaik-baiknya apa dampak positif dan negatifnya, bagaimana besarnya maslahat dan mudhorotnya. Apakah Alloh ‘Azza wa Jalla meridhoi langkah-langkahnya atau justru Alloh ‘Azza wa Jalla murka dengan langkah yang dia ambil. Sepatutnya ia harus berfikir terlebih dahulu, bagaimana ia harus bersikap jika proposalnya di tolak dan bagaimana ia harus bersikap bila proposalnya di terima. Begitulah seharusnya seorang calon Imam mengambil langkah. Bila ikhtiar dan doa telah dilakukan, maka sepatutnyalah ia menyandarkan diri kepada Alloh Ta’ala, dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya semata.

Sebagaimana disepakati oleh al-Bukhari muslim telah diriwayatkan, dimana Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda : “Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin itu. Alloh tidak menetapkan suatu keputusan baginya melainkan keputusan itu adalah baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, dan yang demikian itu lebih baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, maka dia akan bersyukur, maka yang demikian itu adalah baik baginya. Dan hal tersebut tidak akan menjadi milik seorang pun kecuali orang mukmin.” (HR. Muslim no.2999. Dari Shuhain rodhiyalloohu’anhu)


Seorang ikhwan baik-baik akan menawarkan dirinya secara baik-baik pula. Tidak akan melakukan hal-hal yang sekiranya dapat melukai hati seorang akhwat dan mendatangkan murka Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang oleh syaria’t islam yang mulia. Karena ikhwan baik-baik tahu bagaimana harus memperlakukan seorang akhwat.

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita yang baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah kepada wanita dengan baik.” (Hadist shohih : Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.5185-5186) dan Muslim (no.1468 (62)), dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu’anhu)

Dalam riwayat Tirmidzi, Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap kaum wanitanya (istri, saudara wanita atau anak-anak wanita”

Dan ikhwan yang baik-baik akan sangat berHATI-HATI dalam membawa HATI serta memikat HATI, karena ketakutannya dengan murka Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan Alloh Ta’ala memuji orang-orang yang takut didalam Kitab-Nya dan menyanjung mereka.

“Sesungguhnya orang-orang yg BERHATI-HATI karena takut akan (adzab) Robb mereka, dan orang2 yang beriman terhadap ayat-ayat Robb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yg memberikan apa yg telah mereka berikan, dengan HATI YANG TAKUT, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun : 57-61)

Sesungguhnya ikhwan baik-baik yang menjaga Alloh dalam setiap hembusan nafasnya, akan memiliki tiga pilar sentral, yaitu Mahabbah (Cinta), Khauf (Takut) dan Roja’ (Harap) didalam hatinya. Sebagaimana firman-Nya :

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh” (QS. Al-Baqoroh : 165)

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan HARAP dan CEMAS. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’ : 90)

Mereka tidak mengedepankan hawa nafsu dan syetan. Mereka memiliki visi dan misi untuk selalu memperoleh ridho Alloh Ta’ala, dengan mencari kebenaran yang tak henti-hentinya dan senantiasa ada taubat disetiap hembusan nafasnya.

Ya ukhty, KETAHUILAH DAN INGATLAH!!! Bahwa mereka tidak akan pernah mencapai tingkat kesempurnaan, karena mereka juga manusia, sama hal-nya seperti antunna. Tak akan ada yang mampu menyerupai ummul mukminin Khodijah binti Khuwailid. Sebagaimana Rosulullooh Sholalloohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imron. Sebaik-baik wanita ialah Khodijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu ‘anhu).

Tapi yang harus diperhatikan adalah “adakah didalam dirinya semangat untuk bertaubat dan memperbaiki diri dengan cara yang benar?”

Karena begitu banyak orang lain menginginkan kebenaran, tapi caranya salah! Sebagaimana Ibnu Mas’ud berkata : “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak benar caranya!”Sesungguhnya Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda : ‘Nanti akan ada kaum yang membaca al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka!”

Untuk mengetahui hal ini, maka dapat dibuktikan dengan “pola berfikirnya”, apakah dia tunduk kepada Kitabulloh, Sunnah Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam & Sunnah Khulafaur Rasyidin atau justru tunduk kepada HAWA NAFSUnya dan syetan???

Jika akal tunduk kepada hawa nafsu & syetan, bukan termaksudkan nafsu syahwat saja, namun bagaimana dia mengedepankan hawa nafsunya dalam mencari kebenaran. Disinilah letak awal “siapa dia”.

Begitu banyak ikhwan lulusan pesantren-pesantren, tapi begitu banyak pula yang hasilnya bermain dengan hawa nafsu dan mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, terjadilah penolakan-penolakan terhadap sebagian firman-firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sabda-sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam karena dianggapnya tidak sesuai dengan zaman saat ini. Na’udzu billah min zalik.

Mereka lupa atau pura-pura lupa… bahwa ISLAM SUDAH SEMPURNA dan Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam telah bersabda :

“Sungguh, aku tinggalkan kalian diatas ISLAM yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidaklah berpaling dari ISLAM yang putih bersih ini sepeninggalku, melainkan akan BINASA.” (HR. Ibnu Abi’Ashim & Ibnu Majah)

Begitukah taubat dan memperbaiki diri yang benar???

Menurut penulis, hidup bersama orang seperti itu adalah hal yang paling menakutkan.

Sebaliknya, walaupun kenyataannya lebih banyak laki-laki yang gila dunia dan lupa Sang Khalik (penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati). Tapi diantara mereka, ada laki-laki biasa. Dia tidak pernah mengikuti pesantren atau sekolah Islam lainnya, tapi memiliki keinginan untuk senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri dengan menundukkan akal-nya kepada Kitabulloh, Sunnah Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam & Sunnah Khulafaur Rasyidin.

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Sungguh ada beberapa kaum bila mereka banyak berbuat kesalahan-kesalahan, maka mereka bercita-cita menjadi orang-orang yang Alloh ‘Azza wa Jalla akan mengganti kesalahan-kesalahan mereka dengan kebajikan” (Hadist hasan riwayat al-Hakim (IV/252), dari Shahabat Abu Hurairoh)

Maka menurut antunna, mana yang lebih baik diantara mereka yang telah disebutkan diatas?

Jawabnya adalah berdasarkan sabda Rosulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa Sallam :

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat” (HR. Ahmad,at-Tirmidzi, Ibnu Majah & al-Hakim)

Mengapa dengan taubat?

Karena TAUBAT adalah langkah pasti untuk menuju istiqomah dan menyongsong HIDAYAH ALLOH Ta’ala, menjauhkan diri dari ketergelinciran dan kenistaan. Ia adalah pintu kehormatan yang dibuka bagi para pendosa untuk kembali tanpa DITUNDA-TUNDA.

“Sesungguhnya taubat disisi Alloh hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima ALLOH taubatnya, dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa : 17)

Orang yang bertaubat kepada Alloh ialah orang yang kembali dari perbuatan maksiat menuju perbuatan TAAT. Imam Ibnu Qoyyim al-jauziyyah rohimahullooh mengatakan :

“Taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhir perjalanan hidup. Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan menuju Alloh Ta’ala tidak boleh lepas dari taubat hingga ajal menjemputnya. Taubat merupakan awal langkah seorang hamba kepada Alloh dan kesudahannya. Dan kebutuhan seorang hamba terhadap taubat diakhir hayatnya teramat penting dan sangat mendesak. Sebagaimana juga taubat dibutuhkan di awal perjalanan hidup seorang hamba.” (Madaarijus Saalikiin (I/98).

Itulah titik awal yang harus diperhatikan untukmu duhai Ukhty. Karena Alloh Ta’ala sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang TAUBAT dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222)

Maka, selayaknyalah kita turut mencintai orang-orang yang senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri. Bukan begitu?!? Dan tentu saja, untuk itu dibutuhkan ILMU. Maka terus meneruslah berada di majelis ilmu untuk menuntut ILMU. Karena menuntut ilmu syar’i hukumnya WAJIB! Dan Taubat adalah kewajiban seumur hidup!

Ukhtyfillah yang dirahmati Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jika engkau menginginkan ikhwan baik-baik untuk mengkhitbahmu, maka sebagaimana dirimu, si ikhwan pun dianjurkan untuk mencari akhwat baik-baik. Yang harus menjadi instropeksi diri adalah “apakah diri ini sudah menjadi akhwat baik-baik?” Karenanya terus meneruslah kita bertaubat dan memperbaiki diri dengan ILMU, Alloh Ta’ala berfirman:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” (QS. An-Nuur :26)

Ya ukhty,langkah selanjutnya ketika laki-laki baik-baik datang untuk mengkhitbahmu, maka perhatikanlah sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam berikut :

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar.”

Masalahnya sekarang adalah kebanyakan akhwat masih LEBIH mempermasalahkan HARTA dibandingkan dengan AGAMA. Pengaruh materialisme telah banyak menimpa para akhwat dan orang tuanya. Tidak sedikit dari mereka, pada zaman sekarang ini, yang selalu menitikberatkan pada kriteria banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja dalam memilih calon jodohnya. Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian yang serius.

Padahal, Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal pernikahan. Dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islam, insya Alloh akan terwujud. Tapi kafa-ah menurut Islam diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan banyaknya harta, status social, keturunan, dan lain2.

Hendaklah seorang akhwat dan orang tuanya benar-benar waspada terhadap fitnah yang akan ditimbulkannya, karena diantara manusia ada yang terseret oleh kecintaannya yang berlebihan terhadap seorang akhwat sehingga ia berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturahmi dan berbuat kerusakan dibumi, sehingga laknat Alloh menimpanya.


Dan yang paling banyak diantara manusia ada yang diseret oleh kecintaannya kepada seorang akhwat untuk mencari harta yang haram guna memenuhi kecintaannya dan memuaskan syahwatnya. Maka hendaklah seseorang berhati-hati terhadap fitnah wanita.

“Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (Shahih, HR al-Bukhari (no.5096) dan Muslim (no.2740(97)), dr Shahabat Usamah bin Zaid rodhiyalloohu’anhu)

“Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Alloh menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada didalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh Karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada bani Israil adalah karena wanita” (Shahih, HR Muslim (no.2742 (99), dr Shahabat Abu Sa’id al-Khudri rodhiyalloohu’anhu)

Ya ukhty, sadarilah, bahwa kita adalah sumber fitnah yang paling utama. Sumber penyakit yang paling utama. Sadarilah, bahwa jika kita tidak mengekangnya, maka akan timbul kerusakan dimuka bumi ini…

Ukhty perhatikanlah sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam berikut :

“Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rosulullooh, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab,”Para wanita”. Seorang Shahabat bertanya,”Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudara-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab,”Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak sabar.” (Shahih, HR Ahmad (III/428,IV/604) dr Shahabat ‘Abdurrahman bin Syabl rodhiyalloohu’anhu.

Ukhty, mari kita jaga diri ini dari siksa api neraka… Jagalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Alloh Ta’ala akan menjagamu. Jagalah Alloh, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu…

Ya ukhty, Jika memang kau masih bersih kukuh juga dengan masalah harta, jika kau masih juga mempermasalahkan harta…. Maka simaklah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikut :

“Sesungguhnya HARTA dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. At-Thoghoobun : 15)

Dalam kitab Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa sesungguhnya harta dan anak itu akan menjadi bahan UJIAN DAN COBAAN dari Alloh Ta’ala bagi makhluk-Nya agar Dia mengetahui siapakah hamba-hamba-Nya yang taat dan yang durhaka kepada-Nya. Dan disisi Alloh pada hari Kiamat kelak adalah PAHALA YANG BESAR.

Maka ukhty, berhati-hatilah dengan syirik yang tak nampak, yaitu dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap diatas batu hitam ditengah kegelapan malam. Syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara keyakinan). Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah MENGGANTUNGKAN NASIB KEPADA MAKHLUK YANG TIDAK DAPAT BERBUAT APA- APA. Lidah ini begitu mudahnya bersandar pada makhluk yang tidak mampu berbuat sedikitpun. Terlalu menggantungkan nasib kepada makhluk-Nya dengan memperhitungkan kemampuan manusia (PEKERJAAN & HARTA). Ada sebagian akhwat yang beranggapan bahwa ‘dia tidak dapat hidup dengan laki-laki yang penghasilannya jauh dibawah dia. Tak tahukah engkau ya ukhty, bahwa :

Rosulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Alloh adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.” (HR. al-Hakim I/31-32, dan Majma’ az-Zawa’id VII/197)

Demi Alloh, bukan kuasa kita untuk memberikan rizki kepada diri kita maupun keluarga kita. Bukan pula kuasa itu karena kemampuan suami. Alloh Ta’ala-lah yang berkuasa. Bahkan hembusan nafas kita-pun dikuasainya oleh-Nya. Lantas mengapa kita masih menyandarkan diri kepada selain Alloh Ta’ala?

Perhatikan font berwarna merah berikut :

“Dan Allah jadikan bagimu dari diri-dirimu sendiri berupa isteri, lalu Dia jadikan bagimu dari isteri-isterimu berupa anak-anak dan cucu, dan Dia memberimu rezeki yang baik-baik.” (QS. An-Nahl : 72)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS An-Nur: 32)

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah oleh kalian rizki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).“ (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus)

Ya ukhty, selayaknya bagimu untuk mempermudah ikhwan yang akan mempersuntingmu!!! Sungguh mereka juga manusia yang dapat dengan mudahnya tergoda oleh syetan dan hawa nafsu yang disebabkan oleh FITNAH yang paling utama, yaitu WANITA.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya, dan mudah rahimnya.” (Hasan, HR. Ahmad (VI/77,91), Ibnu Hibban (no.1256-Al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181))

“Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah” (Shahih, HR. Abu Dawud (no 2117), Ibnu Hibban (no.1262-al-Mawaarid), dan ath-Thobrani dlm Mu’jamul Ausath (I/221,no 724), dr ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyalloohu’anhu)

“…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (QS. An-Nisaa’:19)



Ya ukhty, rubahlah dirimu, semoga Alloh menganugerahi seorang Imam yang sholeh. Amin

Selamat berjihad!!!

***************************************************************

“Ya Alloh, sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri dengan kezholiman yang banyak dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Karena itu, ampunilah aku, dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Bukhari no.834 dan Muslim no.2705 (48).

“Ya Alloh, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku didalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim I/510 dan dishahihkan serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu’anhuma)

“Ya Alloh, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahana-kesalahanku, kebodohanku serta sikap berlebihanku dalam urusanku, segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Alloh, berikanlah ampunan kepadaku atas canda dan keseriusanku, kekeliruanku dan kesengajaanku, dan semuanya itu ada pada diriku.” (GR. Al-Bukhari no.6399/Fat-hul Baari XI/196, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyalloohu’anh)

sumber: http://akhmukhtar.blogspot.com/2010/03/yaa-ukhty-ikhwan-juga-manusia.html

“Bunga di Tepi Jalan”

by Blue Savir | 18.51 in | komentar (0)

Kau yang terasing dalam hidupmu

Kau yang sinari hatimu dengan ketakwaan

Kau basahi bibirmu dengan dzikir pada Allah

Kau hidupkan malam dengan do’a-mu

 

Kau bagai bunga di tepi jalan

Seribu mata tak memandangmu

Namun Malaikat kan s’lalu menjagamu

Sejuta bintang yang kan mendo’a-kanmu

 

Hidupmu hanya untuk berjuang…

Menegakkan Kalimat tauhid..

Meski terkadang kau tak sempurna

 

Kau yang senantiasa bersyukur

Atas segala limpahan rahmat…

Hanya cinta kepada-Nya

Yang bertahta di hatimu…

 

Dalam duka ini…

Dalam luka ini…

Kini kau bagai senja yang tenggelam

Terpesona oleh lilin-lilin..

Yang memancarkan keindahan…

“Aku Takut”

by Blue Savir | 18.41 in | komentar (0)

Aku…

Aku bertahan diantara kemunafikan

Aku…

Aku menangis bagai embun

 

Kian lama iman semakin merapuh

Girah ini mulai memudar..

Saat aku tak lagi..

Tapaki jalan yang lurus

 

Tak ada yang indah

Dengan semua kemungkaran ini

Aku begitu takut…

Siksa kan menjemputku

 

Ya Allah…

Hamba mohon maghfirah dari-Mu

 

Dunia terlalu hina

Untuk Tempatku bernaung

Sebaik-baik tempat

Adalah Firdaus-Mu

 

Ya Allah aku rindu

Cintamu seperti dulu…

Hikmah dalam Berdakwah

by Blue Savir | 16.29 in | komentar (0)

Oleh Ust. Abdullah Zain, Lc

Segala puji bagi Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasul-Nya Shallahu’alaihi wa sallam.

            Di suatu rumah: "Pokoknya mulai hari ini bapak dan ibu tidak boleh lagi pergi ke dukun dan tidak boleh lagi sedekah bumi, tidak boleh ikut maulidan dan tahlilan, tidak boleh nonton tv, bapak harus memendekkan celana panjang di atas mata kaki, dan ibu harus memakai cadar!!", demikian 'instruksi' seorang pemuda yang baru 'ngaji' kepada bapak dan ibunya. "Memang kenapa?!" tanya orang tuanya dengan nada tinggi. "Karena itu syirik, bid'ah dan maksiat!" jawab si anak berargumentasi. "Kamu itu anak kemarin sore, tahu apa?! Tidak usah macam-macam, kalau tidak mau tinggal di rumah ini keluar saja!!" si bapak dan ibu menutup perdebatan dalam rumah kecil itu.

            Salah seorang sahabat pemuda tadi yang telah lebih lama ngaji dan telah lebih banyak makan asam garam, menasehati temannya yang tengah bersemangat empat lima dalam menasehati orang tuanya, "Bertahaplah akhi dalam mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada di rumah antum[1] Antum harus bersikap lebih hikmah…". "Lho, bukankah kita harus menyampaikan yang haq meskipun itu pahit?!" jawab si pemuda itu dengan penuh tanda tanya.

            Di tempat lain, seorang 'juru dakwah' namun minim ilmu, kerap ikut larut dalam ritual-ritual syirik dan acara-acara bid'ah, sambil sesekali bermusik ria dengan dalih pendekatan masyarakat sebelum mendakwahi mereka. Ketika ada seorang yang komplain padanya, "Akhi, itu khan acara-acara syirik, bid'ah dan maksiat? Kenapa antum ikut hanyut di dalamnya?". "Kita harus bersikap hikmah dalam berdakwah, kalau kita tidak mengikuti acara-acara itu terlebih dahulu, masyarakat akan lari dan menjauhi kita! Bukankah Islam itu rohmatan lil 'alamien?" jawab si 'juru dakwah' tadi dengan ringan.

            Mungkin dua kisah di atas bisa mewakili dua kelompok yang amat bertolak belakang dalam memahami kata hikmah saat berdakwah. 

 

3 Golongan Manusia dalam Menyikapi Istilah Hikmah:

  1. Golongan yang tidak mempedulikan sikap hikmah dalam berdakwah, sehingga terkesan agak ngawur dalam berdakwah.
  2. Golongan yang terlalu longgar dalam memahami istilah hikmah, sehingga kerap 'mengorbankan' beberapa syari'at Islam dengan alasan hikmah dalam berdakwah, sebagaimana telah kita singgung sedikit di atas.
  3. Golongan yang tengah, yaitu golongan yang memahami kata hikmah dengan benar dan senantiasa menerapkan sikap hikmah dalam dakwahnya; sehingga dia selalu mempertimbangkan segala gerak-gerik serta cara dia berdakwah dengan timbangan ini.

Kalau begitu, lantas apa definisi yang benar dari kata hikmah?

 

Definisi Hikmah:

            Kata hikmah di dalam al-Qur'an ada dua macam[2]:

  1. Disebutkan berdampingan dengan kata al-Qur'an.
  2. Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, namun disebutkan sendirian.

            Jika bergandengan dengan kata al-Qur'an maka hikmah berarti: hadits Rasul Shallahu’alaihi wa sallam. Contohnya: firman Allah ta'ala,

 

Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". QS. Ali Imran: 164.

            Namun jika kata hikmah disebutkan sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an maka maknanya adalah: Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai[3].

            Di antara contoh penafsiran kata hikmah dengan makna kedua ini[4] adalah firman Allah ta'ala,

 

Artinya: "Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". QS. Al-Baqarah: 269.

 

Perintah untuk bersikap hikmah dalam berdakwah:

            Di antara dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: firman Allah ta'ala,

 

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk". QS. An-Nahl: 125.

            Imam Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat di atas: Ajaklah para manusia -baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Allah yang lurus dengan hikmah; yang berarti masing-masing sesuai dengan kondisi, tingkat pemahaman, perkataan dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasehat yang baik yaitu: perintah dan larangan yang dibarengi dengan hasungan dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini adalah benar, -padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil-dalil syar'i maupun akal[5].

            Al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah memaparkan dengan gamblang bahwa sikap hikmah ini "merupakan salah satu sikap yang kurang dimiliki oleh banyak para juru dakwah, sehingga mengakibatkan dakwah mereka kacau; dikarenakan mereka tidak kembali kepada metode dakwah Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam "[6].

 

Pilar-Pilar Hikmah:

            Sikap hikmah dibangun di atas tiga pilar:

  1. Ilmu.
  2. Al-hilmu (bijaksana).
  3. Al-anaah (tidak tergesa-gesa)[7].

Di antara tiga pilar ini, pilar yang paling utama dan yang paling penting adalah pilar pertama yaitu ilmu. Dan ilmu yang dimaksud di sini adalah al-Qur'an dan hadits serta pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salaf ash-shalih)[8].

Maka seseorang tidak akan bisa bersikap hikmah dalam berdakwah, melainkan jika dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta pemahaman salaf ash-shalih. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian orang yang 'mengesampingkan' perintah-perintah Allah, apalagi perintah yang paling penting yaitu tauhid, atau ikut 'larut terbawa arus' adat masyarakat yang menyelisihi syari'at, semua itu dengan alasan hikmah dalam berdakwah!

 

 



[1] InsyaAllah akan kami jelaskan dengan lebih luas masalah bertahap dalam mengingkari  kemungkaran pada contoh kesembilan dari tulisan ini.

[2] Lihat: Madarij as-Salikin karya Imam Ibn al-Qayyim (II/478).

[3] Lihat: Al-Hikmah fi ad-Da'wah ila Allah karya Sa'id bin Ali al-Qahthani (hal. 30) dan Ashnaf al-Mad'uwwin wa Kaifiyatu Da'watihim karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaili (hal. 33).

[4] Lihat: Tafsir ath-Thabari (V/576 ayat 269 dari surat al-Baqarah -cet Mu'assasah ar-Risalah).

[5] Lihat: Tafsir as-Sa'di (hal. 404).

[6] Kata pengantar beliau untuk kitab at-Tadarruj fi Da'wah an-Nabi Shallahu’alaihi wa sallam, karya Ibrahim bin Abdullah al-Muthlaq (hal. 8).

[7] Madarij as-Salikin (II/480).

[8] Lihat: Ad-Da'wah ila Allah wa Akhlaq ad-Du'at oleh Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz (hal. 25-26).

Segala puji bagi Allah, kami menyanjung-Nya, meminta pertolongan, mengharap ampunan dan petunjuk kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri dan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad ` adalah hamba dan utusan-Nya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

'Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim' [QS Ali Imron 102].

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

'Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama – Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu' [QS An Nisa 1]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا(70)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

'Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar' [QS Al Ahzab 70-71]

Amma ba'du : Sesungguhnya sebenar-benarnya ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuknya Nabi . Dan sejelek-jeleknya perkara adalah hal-hal baru (dalam agama), dan setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, disebutkan dalam shohih Bukhori, Muslim dan selainnya : "Bahwasanya Nabi  pernah suatu ketika membagikan harta rampasan kepada para sahabatnya, lalu tiba-tiba datang seseorang yang bernama Dzul khuwaisiroh At-Tamimi seraya mengatakan kepada Nabi  : "‍اِعدِل يَا مُحَمَّدُ" "Berlaku adillah wahai Muhammad!". Mendengar ucapan itu, Rasulullah  marah sambil berkata: "وَيحَك وَمَن يَعدِل إِن لَم اَعدِل؟": "Celakalah engkau, jika aku tidak bisa berbuat adil maka siapa yang bisa berbuat adil ?". Sahabat Umar  yang hadir pada saat itu berkata : " يَا رَسُولَ الله اِئذَن لِي فَأَضرِب عُنُقَهُ " "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk memenggal leher orang ini". Rasul  pun menjawab :
"دَعهُ فَإِنَّ لَهُ أَصحَابًا يَحقِرُ أَحَدُكُم صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِ, يَمرُقُونَ مِنَ الدِينِ كَمَا يَمرُقُ السَهمُ مِنَ الرَمِيَّة"
"Biarkanlah dia (Wahai Umar), karena dia memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian merasa sedikit sholat maupun puasanya dibanding dengan sholat dan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya".

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, inilah benih, inilah cikal bakal, inilah nenek moyang sebuah aliran sesat, sebuah kelompok sempalan yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, yang bernama Al-Khowarij. Mereka tidak pernah puas dengan pemimpin kaum muslimin, mereka selalu ingin memberontak kepada penguasa kaum muslimin, dan selalu menyebarkan aib-aib penguasa. Mereka menyeru rakyat untuk memberontak kepada penguasa dan mereka ini akan selalu muncul di setiap saat sampai akhir zaman nanti, sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi  : "Akan keluar sekelompok orang diakhir zaman nanti, mereka masih ingusan dan bodoh. Mereka membaca al-qur'an tapi keimanan mereka tidak sampai kepada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya. Dimana saja kalian bertemu mereka maka perangilah mereka, karena didalam memerangi mereka terdapat pahala bagi orang yang memerangi mereka di hari kiamat nanti". (HR.Bukhori)

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, kelompok ini selalu mengobarkan bendera jihad untuk memerangi kaum muslimin, kelompok yang menghalalkan darah kaum muslimin. Tidak ada bukti yang lebih nyata akan hal diatas ini melainkan kisah mereka ketika mereka ikut andil dalam pembunuhan seorang kholifah ar-rasyid Ustman bin Affan . Merekalah yang ikut andil dalam pengepungan terhadap rumah Utsman bin Affan . Setelah itu, mereka semakin merajalela dikala kekholifahan Ali bin Abi Tholib . Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Tholib dan para sahabatnya . Merekalah yang paling bertanggung jawab dalam pembunuhan terhadap Ali bin Abi Tholib . Seseorang yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al-Himyari, dialah pelaku pembunuhan terhadap kholifah ar-rasyid Ali bin Abi Tholib . Pada waktu dia ingin membunuh Ali bin Abi Tholib  yaitu ketika pedangnya disabetkan kepada Ali bin Abi Tholib dia sempat membaca ayat al-Qur'an. " إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ" "Tidak ada hukum kecuali hukum Allah" dan
" وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ"
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

Membunuh Ali bin Abi Tholib dianggap oleh Abdurrahman bin Muljam sebagai bentuk jihad, sebagai bentuk perjuangan di jalan Allah. Subhanallah, demikianlah kesesatan kalau sudah masuk kedalam hati dan otak manusia, tidak tahu mana malam mana siang, mana kegelapan mana cahaya. Membunuh seorang kholifah ar-rosyid, membunuh seorang sahabat yang dijamin masuk surga dianggap sebagai bentuk jihad, sebagai bentuk perjuangan dalam Islam.

Oleh karena itu, kaum muslimin -rahimani wa rahimakumullah- marilah kita selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala, selalu menuntut ilmu agama ini dari sumbernya (al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat Nabi ). Adapun slogan-slogan, semboyan-semboyan, dan seruan-seruan yang terkadang berlebelkan Islam jangan kita mudah terpengaruh. Janganlah kita tertipu, sampai kita menimbangnya diatas al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, para sahabat, para tabi'in dan tabiut tabi'in.

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahinakumullah-, "Maa asbaha allaila bil baariha" alangkah miripnya kelompok-kelompok sekarang yang menghalalkan darah kaum muslimin, yang mereka melakukan teror dimana-mana, entah di Indonesia, di Saudi Arabia, di Yordania dan lain-lain dengan melakukan peledakan-peledakan, pengeboman-pengeboman dengan mengatas namakan Islam dan mereka anggap sebagai jihad. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh kaum muslimin, yang membunuh orang-orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin? Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh wanita-wanita dan anak-anak kecil yang tidak berdosa? Bagaimana membunuh orang mukmin bisa dikatakan jihad, sedangkan Allah  berfirman :

" وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا "

"Barangsiapa yang membunuh orang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam dia kekal didalamnya sealama-lamanya dan Allah murka kepadanya, dan Allah melaknatnya dan Allah juga menyediakan baginya adzab yang pedih". (QS.An-Nisa' : 93)

Bagaimana mungkin membunuh orang mukmin atau muslim dianggap sebagai jihad, sedangkan Nabi  bersabda :

"لَزَوَالُ الدُنيَا أَهوَنُ عَلَى الله مِن قَتلِ مُؤمِنٍ بِغَيرِ حَقٍّ, وَلَو أَنَّ أَهلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهلَ أَرضِهِ اشتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤمِنٍ لَأَدخَلَهُم الله النارَ"

"Sungguh musnahnya dunia itu tidak seberapa dibandingkan dengan pembunuhan seorang muslim tanpa hak dan seandainya semua penduduk langit dan bumi bersatu dalam pembunuhan seorang mukmin saja, maka Allah akan memasukkan mereka semua kedalam neraka".
Bagaimana mungkin membunuh orang-orang kafir yang masuk kedalam negeri kaum muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dikatakan jihad, sedangkan Nabi  bersabda :

"مَن قَتَلَ نَفسًا مُعَاهَدًا لَم يَرَح رَائِحَةَ الجَنَّةِ"

"Barangsiapa yang membunuh seorang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin maka dia tidak akan mencium bau surga" (HR.Bukhori)

Bagaimana mungkin bisa dikatakan jihad orang-orang yang membunuh perempuan-perempuan dan anak-anak kecil yang tidak berdosa, sedangkan Nabi  selalu mewasiatkan kepada pasukannya pada waktu mereka berjihad dengan ucapan beliau:

"اُغزُوا بِسمِ الله وَفِي سَبِيلِ الله وَقَاتِلُوا مَن كَفَرَ بِالله وَلَا تَغدِرُوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقتُلُوا وَلِيدًا"

"Berperanglah kalian di jalan Allah dengan menyebut nama Allah dan perangilah orang-orang yang mengkufuri Allah. Jangan kalian curang dan jangan menyincang serta jangan membunuh anak-anak kecil".

Bagaimana bisa dikatakan jihad orang-orang yang memberontak kepada penguasa kaum muslimin, sedangkan Allah berfirman :

" يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ "

"Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan para pemimpin kalian" (QS.An-Nisa' : 59)

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, ittaqullah, bertakwalah kepada Allah, dan bertakwalah mereka yang telah terjerumus kedalam pemikiran khowarij yang menghalalkan darah kaum muslimin atau membunuh orang-orang yang tidak bersalah, yang selalu memberontak kepada penguasa kaum muslimin serta bertakwalah mereka yang mendukung, yang menyetujui orang-orang yang membuat teror terhadap kaum muslimin !!!

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, jihad adalah ibadah sebagaimana sholat, haji, zakat harus mengikuti dan mencontoh Sunnah Rasul . Oleh karena itulah Ali bin Abi Tholib  mentafsirkan ayat dalam surat Al-Kahfi ayat 103-104 :

" قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا(103)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا "

"Katakanlah wahai Muhammad apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya"
Ali bin Abi Tholib mengatakan itulah khowarij. Karena apa ? karena mereka melaksanakan suatu ibadah, mereka mengobarkan jihad tanpa ilmu, tanpa mengikuti sunnah Rasulullah , sehingga mereka berani mengkafirkan, mereka berani menghalalkan darah sahabat Nabi .
Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, Islam tidak akan jaya selama kaum muslimin menyimpang dari ajaran agamanya. Umat Islam tidak akan pernah menjadi jaya selama mereka tidak mau kembali kepada ajaran Islam yang murni yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, yang diajarkan Nabi  kepada para sahabatnya. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud v bahwasanya Nabi  bersabda :

“سَلَّطَ الله عَلَيكُم ذُلّا لَا يَنزِعُهُ حَتَّى تَرجِعوا إِلَى دِينِكم…”

“….Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian", yaitu kembali kepada aqidah yang murni, kembali kepada tauhid, kepada Sunnah Nabi , kepada metode sahabat Nabi  dalam segala hal, dalam aqidah, ibadah, jihad, dalam berdakwah, dan dalam mendidik kaum muslimin.

Tapi jika kaum muslimin tidak mau kembali kepada hal tersebut, maka sekarang inilah kaum muslimin meresakan bagaimana kehinaan itu, bagaimana mereka diporak porandakan oleh orang-orang kuffar, bukan karena kekuatan mereka tapi karena kelemahan kita. Dan Allah  tidak akan merubah keadaan kaum muslimin yang terhina ini sampai mereka mau merubah keadaan mereka sendiri. Allah berfirman :

“إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ”

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah diri mereka sendiri”. Kaum muslilmin tidak akan terubah keadaannya sampai mereka mengubah aqidah mereka yang rusak, merubah aqidah mereka yang tercampur dengan kesyirikan, yang merupakan bentuk penyekutuan kepada Allah . Dan merubah diri dari berdoa kepada wali-wali yang telah mati kepada berdoa hanya kepada Allah  saja. Merubah ibadah-ibadah mereka yang penuh dengan bid’ah kepada Sunnah Nabi . Dengan itulah, mereka akan menjadi mulia, mereka akan menjadi jaya, sebagaimana kejayaan yang telah diperoleh oleh para sahabat Nabi . Imam Malik v pernah mengatakan :

"لَن يُصلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأَمَّة إِلاَّ مَا أَصلَحَ أَوَّلَهَا"

“Tidak akan membaikkan umat ini kecuali dengan apa yang membaikkan umat terdahulu” yaitu para sahabat Nabi , yang selalu mengikuti Sunnah beliau dalam setiap hal.

Khutbah kedua
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta seluruh sahabat dan para pengikut beliau yang setia. Amma ba'du :
Saya wasiatkan kepada diri saya dan kaum muslimin semuanya untuk selalu bertakwa kepada Allah  dengan mengikuti Sunnah Rasul , dengan selalu menuntut ilmu agama baik aqidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak. Karena memang tidak ada kebaikan bagi seorang muslim kecuali dengan dia tahu agamanya, dengan dia menuntut ilmu agamanya. Nabi  pernah bersabda:

“مَن يُرِدِ الله بِهِ خَيرًا يُفَقِّهُ فِي الدِينِ”

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya maka Allah akan pahamkan kepadanya agama” (Muttafaqun 'alaihi).

Tidak ada kebaikan kecuali bagi yang memahami agama ini dengan sebenar-benarnya, memahami agama ini sesuai dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafus sholih, pemahaman sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.

Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, pada khutbah kedua kali ini saya ingin mengingatkan kaum muslimin akan suatu hal yang sekarang sering diucapkan oleh sebagian kaum muslimin yaitu kata-kata atau istilah Asy-Syahid. Banyak di koran-koran atau di media masa dan yang lainnya kita jumpai seseorang menyatakan fulan (si B) itu syahid, (si C) itu syahid. Padahal kita tidak tahu apakah dia betul-betul berjuang di jalan Allah ? Apakah betul-betul dia telah menelusuri jejak Rasul  ? Oleh karenanya, Imam Bukhari v dalam shohihnya membuat suatu bab atau judul yaitu “Laa yuqoolu fulanun Syahid” "Tidak (boleh) dikatakan seseorang itu syahid" dan beliau berdalil dengan dua hadits, yang pertama yang artinya: “Allahlah yang paling tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya” kemudian hadits yang kedua kisah peperangan yang terjadi pada zaman Nabi . Nabi saw pada waktu itu berperang dengan orang-orang musyrikin, sebagian para sahabat mengatakan sungguh tidak ada yang lebih banyak jasanya dari pada si fulan. Kemudian Nabi  mengatakan “Dia dineraka. Para sahabat pun terheran-heran, kenapa Nabi  mengatakan hal seperti itu padahal kita melihat sendiri si fulan itu sangat berjasa, sangat berjuang di jalan Allah memerangi orang-orang musyrikin. Tidak tahunya orang tersebut ketika mau meninggal dunia membunuh dirinya sendiri.

Dari sinilah Imam Bukhari v menyatakan tidak bolehnya mengatakan fulan syahid, si A atau si B itu mati syahid, karena permasalahannya ada ditangan Allah . Tidak ada yang mengetahui syahid atau tidak kecuali Allah . Kemudian hal ini dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani v dalam Fathul bari, beliau mengatakan ketika mengomentari judul bab "laa yuqolu fulanun syahid" "Tidak boleh dikatakan fulan itu syahid" : “Alal qot’I fi dzalik” yaitu memastikan orang itu syahid “Illa inkana bil wahyi” kecuali kalau ada wahyu (bahwa si B atau si C syahid). Kemudian Ibnu Hajar Al-Asqolani membawakan ucapan Umar bin Khottob . Umar dalam khutbahnya pernah mengatakan : “Kalian mengatakan dalam peperangan kalian, fulan (si B) itu syahid dan fulan (si C) itu meninggal dalam keadaan syahid, Janganlah kalian mengatakan seperti itu, akan tetapi ucapkanlah (secara global) seperti yang dikatakan oleh Rasulullah  : "Barangsiapa yang mati di jalan Allah atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid”.

Oleh karena itu ikhwani fillah, maasyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, jangan kita mudah mengatakan fulan syahid, orang itu syahid, orang itu termasuk syuhada’ atau orang itu telah bertemu dengan Allah disyurga-Nya, dan telah bertemu dengan bidadari.
Oleh karena itulah, aqidah Ahlus sunnah wal jamaah sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Ath-Thohawiyah dalam aqidah thohawiyyah beliau mengatakan :

“وَنَرجُو لَلمُحسِنين مِن المُؤمِنِينَ أَن يَعفثوَ عَنهُم وَيُدخِلَهُمُ الجَنَّةَ بِرَحمَتِه وَلَا نأمَنُ عَلَيهِم وَلَا نَشهَد لَهُم بِالجَنَّةِ”

"Kita hanya bisa berharap bagi orang-orang yang berbuat baik dari kalangan orang-orang yang beriman agar Allah mengampuni dosa-dosanya dan agar Allah memasukkannya kedalam surga dengan rahmat-Nya. Tapi kita tidak bisa menjamin dan kita tidak bisa mengatakan dia itu di surga".

Inilah aqidah Ahlus sunnah wal jamaah, tidak boleh memastikan dia mati syahid, dia masuk surga atau masuk neraka. Kita hanya bisa berharap semoga yang berjuang di jalan Allah dia bisa masuk surga dan kita mengharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Sekali lagi, kembalilah kepada Ahlu sunnah wal jamaah, kepada pemahaman salafus sholih agar kita tidak tersesat dan tidak tergelincir dimana-mana. Dan janganlah kita tertipu dengan slogan-slogan yang ada, jihad fisabilillah atau sekarang banyak istilah film-film Islami, musik Islami, semua ditempelkan kepada Islam. Dan juga sekolah Islami yang terkadang banyak menghancurkan Islam dari dalam tanpa mereka sadari. Lihat hakekatnya, lihat apakah sesuai dengan Sunnah, sesuai dengan metode para salafus sholeh atau tidak !
Ma'asyiral muslimin -rahimani wa rahimakumullah-, “Assunnah safinatun najah” Sunnah Nabi (dan metode para sahabat) adalah jalan keselamatan, barangsiapa yang menyimpang darinya maka dia akan binasa.





Allah ta'ala telah menganugerahkan kepada kaum wanita keindahan yang membuat kaum lelaki tertarik kepada mereka. Namun syariat yang suci ini tidak memperkenankan keindahan itu diobral seperti layaknya barang dagangan di etalase atau di emperan toko. Tapi kenyataan yang kita jumpai sekarang ini wanita justru menjadi sumber fitnah bagi laki-laki. Di jalan-jalan, di acara TV atau di VCD para wanita mengumbar aurat seenaknya bak kontes kecantikan yang melombakan keindahan tubuh, sehingga seolah-olah tidak ada siksa dan tidak kenal apa itu dosa. Benarlah sabda Rasulullah yang mulia dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau bersabda, "Tidak pernah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih besar bagi kaum lelaki daripada wanita." (HR. Bukhari Muslim)

Ya, begitulah realitasnya, wanita menjadi sumber godaan yang telah banyak membuat lelaki bertekuk lutut dan terbenam dalam lumpur yang dibuat oleh syaitan untuk menenggelamkannya. Usaha-usaha untuk menggoda bisa secara halus, baik disadari maupun tidak, secara terang-terangan maupun berkedok seni. Tengoklah kisah Nabi Allah Yusuf 'alaihis salam tatkala istri pembesar Mesir secara terang-terangan menggoda Beliau untuk diajak melakukan tindakan tidak pantas. Nabi Yusuf pun menolak dan berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik." (QS. Yusuf: 23)

Muhammad bin Ishaq menceritakan, As-Sirri pernah lewat di sebuah jalan di kota Mesir. Karena tahu dirinya menarik, wanita ini berkata, "Aku akan menggoda lelaki ini." Maka wanita itu membuka wajahnya dan memperlihatkan dirinya di hadapan As-Sirri. Beliau lantas bertanya, "Ada apa denganmu?" Wanita itu berkata, "Maukah anda merasakan kasur yang empuk dan kehidupan yang nikmat?" Beliau malah kemudian melantunkan syair,"Berapa banyak pencandu kemaksiatan yang mereguk kenikmatan dari wanita-wanita itu, namun akhirnya ia mati meninggalkan mereka untuk merasakan siksa yang nyata. Mereka menikmati kemaksiatan yang hanya sesaat, untuk merasakan bekas-bekasnya yang tak kunjung sirna. Wahai kejahatan, sesungguhnya Allah melihat dan mendengar hamba-Nya, dengan kehendak Dia pulalah kemaksiatan itu tertutupi jua." (Roudhotul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, karya Ibnul Qayyim)

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, "Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita." (HR. Muslim) Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa. Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: "Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka."

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga: "Allah Subhanahu wa ta'ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat..."

Wallahul Musta'an.

***

Penulis: Abu Harun Aminuddin
Sumber: Buletin at-Tauhid




Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.

Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusnya Imam Mahdi ke muka bumi.

Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa Imam Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya. Ia akan menghantarkan kita meninggalkan babak keempat era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya dewasa ini menuju babak kelima yaitu tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ

رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي

يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Lelaki keturunan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tersebut adalah Imam Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan. Subhanallah...! Beliau tentunya tidak akan mengajak ummat Islam berpindah babak melalui perjalanan tenang dan senang laksana melewati taman-taman bunga indah atau melalui meja perundingan dengan penguasa zalim dewasa ini apalagi dengan mengandalkan sekedar ”permainan kotak suara”..! Imam Mahdi akan mengantarkan ummat Islam menuju babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah melalui jalan yang telah ditempuh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya, yaitu melalui al-jihad fi sabilillah.

Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia menjalankan kekuasaan dengan ideologi penghambaan manusia kepada sesama manusia. Bila Allah mengizinkan Imam Mahdi untuk menang dalam berbagai perang yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dengan pola kepemimpinan berideologi aqidah Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Banyak ghazawat (perang) akan dipimpin Imam Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ

ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Lalu apa sajakah indikasi kedatangan Imam Mahdi? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran umum indikasi kedatangan Imam Mahdi. Ia akan diutus ke muka bumi bilamana perselisihan antar-manusia telah menggejala hebat dan banyak gempa-gempa terjadi. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ

وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Hadits berikut ini bahkan memberikan kita gambaran bahwa kedatangan Imam Mahdi akan disertai tiga peristiwa penting. Pertama, perselisihan berkepanjangan sesudah kematian seorang pemimpin. Kedua, dibai’atnya seorang lelaki (Imam Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah. Ketiga, terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Imam Mahdi.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ

وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Saudaraku, sebagian pengamat tanda-tanda akhir zaman beranggapan bahwa indikasi yang pertama telah terjadi, yaitu perselisihan dan kekacauan yang timbul sesudah wafatnya seorang pemimpin. Siapakah pemimpin yang telah wafat itu? Sebagian berspekulasi bahwa yang dimaksud adalah Saddam Husein. Karena semenjak kematiannya, negeri Irak berada dalam kekacauan berkepanjangan. Wallahua’lam bish-showwab. Bila analisa ini benar berarti dewasa ini kita sudah harus bersiap-siap untuk berlangsungnya pembai’atan paksa Imam Mahdi di depan Ka’bah.

Saudaraku, bila ketiga peristiwa di atas telah terjadi, berarti Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi tahu bahwa Imam Mahdi telah datang diutus ke muka bumi. Panglima ummat Islam di Akhir Zaman telah hadir.. . Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Imam Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin...